Kontroversi Pil Tunda Haid Selama Haji

November 4, 2007

Selasa, 14 Januari 2003
Kontroversi Pil Tunda Haid Selama Haji
Oleh Sudjari Dahlan dan Sarjana *

Wanita yang sedang haid tidak dilarang melakukan kegiatan manasik haji, seperti wukuf di Arafah, mabit di Mudzalifah, melontar jumrah, kecuali tawaf di sekitar Baitullah. Syaikh Salih Muhammad Jamal tidak melarang wanita haid melakukan sa’i.

Dari segi hukum syar’i wanita yang sedang haid itu dilarang salat, puasa dan tawaf. Tentang ihram dan tawaf haji ini sebenarnya sudah ada petunjuk teoritis dan praktis dari Nabi Muhammad SAW.

Masalahnya kalau haid itu terjadi pada saat yang bersangkutan akan melakukan tawaf ifadlah (terutama) atau tawaf umrah bagi haji tamttu’, sampai hari tarwiyah belum tawaf karena terhalang haid yang baru dialami, padahal masa haid itu antara orang yang satu dengan yang lain tidak sama.

Kalau hal ini menimpa pada wanita dari Indonesia, misalnya, yang terikat dengan rombongan transportasi pemulangan jama’ah padahal yang bersangkutan biasanya masa haidnya minimal 7 hari tentu hal ini menimbulkan masaqqah bagi dirinya dan mungkin penyelenggara perjalanan haji.

Kalau hal itu tidak dibenarkan oleh hukum syar’i, bolehkah yang bersangkutan menunda masa haidnya dengan cara menggunakan obat, sehingga ia dapat melakukan tawaf?

Hukum Tawaf Wanita Haid

Kemungkinan terjadinya haid itu ada kalanya saat menjelang ihram di miqat, ada kalanya sudah berada di Makkah ketika akan tawaf umrah bagi haji tammatu’, tawaf qudum bagi haji ifrad, atau haji qiran. Juga sangat mungkin terjadi haid menjelang tawaf ifadlah, sedang tawaf ifadlah, sesudah tawaf ifadlah, menjelang tawaf wada’, dan bahkan ketika sedang thawaf wada’.

Di antara tawaf tersebut yang merupakan rukun haji adalah tawaf ifadlah, maka kalau hal ini bersamaan dengan datangnya haid dan yang bersangkutan segera plang ke tanah air, akan menimbulkan kecemasan, maka untuk menjawabnya perlu dasar hukum tawaf bagi wanita haid ini.

Jika haid terjadi sesudah tawaf ifadlah, menjelang atau di saat melakukan tawaf wada’ maka yang bersangkutan boleh tidak melakukan tawaf, tetapi haid yang terjadi menjelang dan atau pada saat mengerjakan tawaf ifadlah, tidak boleh meneruskan tawafnya sehingga suci atau berakhir haidnya. Ia harus menunggu sampai suci baru melakukan tawaf ifadlah.

Sampai berapa lama, ia menunggu di Makkah sehingga ia dapat tawaf, para ulama berbeda pendapat, sebagaimana telah diterangkan sebelumnya tentang batas waktu awal dan yang akhir bagai tawaf ifadlah. Jika menunggu berakhirnya haid itu harus sampai 15 hari, maka hal ini bisa menimbulkan banyak masalah, seperti habisnya bekal nafaqah atau habisnya masa berlakunya paspor dan lain-lain, ia boleh pulang ke tanah air dengan status thallul awal, sesudah memungkinkan ia kembali ke Makkah untuk tawaf.

Penundaan Haid Dengan Obat

Penggunakan obat memang disyariatkan dalam Islam, maka timbul pertanyaan apakah haid itu penyakit sehingga diperlukan obat untuk menundanya, pada hal haid itu merupakan sunatullah atas diri wanita. Apakah hal itu tidak berarti mengubah sunatullah? Apakah penundaan haid itu tidak bertentangan dengan maqashih syariah? Kalau tidak bagaimana caranya, sebab kalau bertentangan dengan syariat tentu dilarang, lalu apa obatnya?

Dengan kemajuan iptek orang berusaha menunda kedatangan haid dengan menggunakan obat-obatan. Dan, ini sudah berjalan lama. Pada masa Nabi sampai pada masa Imam-Imam Mujtahidin, belum ada obat penunda haid, supaya dapat melaksanakan semua amalan-amalan haji, termasuk dalam tawaf.

Jadi tidak ada nash yang menunjukkan boleh dan tidaknya menunda kedatangan haid, maka penundaan haid ini merupakan masalah ijtihadiyah, yang pemecahannya dengan ijtihad. Ijtihad ini mengenal manhaj atau metode yang bermacam-macam. Masalah sementara yang bisa ditarik dari penundaan haid adalah dapat melaksanakan amalan haji tanpa kendala, udzur syar’i yang berupa haid. Lantas, adakah akibat yang membawa mafsadah karena menunda haid ini? Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan penelitian valid.

Kalau ternyata mafsadahnya tidak ada maka penundaan itu diperbolehkan, tetapi kalau dilihat ternyata mashlahah yang ditemukan itu bertentengan dengan maqasid syar’i atau bertentangan dengan nash, baik dari Qur’an maupun sunnah, sebaiknya kembali kepada nash. Meskipun ada pendapat seperti Al Thufy meninggalkan nash jika dinilainya nash itu bertentangan dengan mashlahah.

Dari sisi lain adakah masaqqahnya jika wanita haid pada saat haji itu tidak menunda haidnya, apakah daruratnya jika ia tidak menunda haidnya. Masaqqah itu kalau dibiarkan akan membawa madlarat bagi yang bersangkutan, padahal Islam melarang manusia membiarkan dirinya dalam kerusakan atau penderitaan.

Pengaturan haid dapat dilakukan dengan cara menunda atau memajukan haid tersebut. Haid dapat ditunda dengan pemberian sediaan yang mengandung hormon seks wanita. Salah satu di antaranya adalah dengan menggunakan hormon progesterone. Penundaan haid dengan cara ini secara tidak langsung mempengaruhi sistem endokrinologi reproduksi manusia, sehingga pada penggunaan yang tidak rasional dapat mengganggu siklus haid. Penundaan itu hendaknya hanya dilakukan bila benar-benar dianggap perlu, seperti pada saat menunaikan ibadah haji.

Penggunaan MPA

Salah satu cara yang sangat handal untuk mengatur haid tersebut adalah dengan pemberian Progesteron (P). Berbagai jenis progesterone yang selama ini sering digunakan sebenarnya adalah turunan testosteron, suatu hormon maskulin sintetik yang bila dipakai dalam jangka panjang dapat menimbulkan maskulinisasi (kelaki-lakian) pada wanita. Karena itu telah dicari alternatif lain untuk menghilangkan dampak maskulinisasi tersebut, yaitu dengan pemberian tablet medroksi progesterone assetat (MPA) dosis rendah.

Yang paling mudah dilakukan adalah menunda haid. Ambillah progesterone 10 hari, atau paling lambat tujuh hari sebelum haid. Hentikan pemakaiannya setelah 3 hari sebelum haid yang diinginkan. Haid biasanya akan datang 2 – 3 hari setelah penghentian pengambilan progesterone. Pemberian progesterone dapat dilakukan berminggu-minggu. Pengaruh sampingan yang ditimbulkan sangat jarang, asalkan tahu kontra indikasinya.

* Sardjana, Sp.OG, dokter ahli kandungan dan kebidanan, dan KH Sudjari Dahlan, anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah Jatim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: