Belanja waktu haji

September 6, 2007

Berbelanja, Boleh juga Jika Haji Usai
Oleh B. ABUBAKAR
JEMAAH haji asal Indonesia dikenal sangat gemar berbelanja saat berada di tanah suci. Bahkan, begitu tiba di Madinah Al-Munawarah bagi jemaah yang tergabung dalam gelombang I, mereka pun sudah berbelanja aneka macam barang yang memungkinkan dibawa pulang ke tanah air sebagai oleh-oleh.

Masih mending kalau itu berupa emas atau barang elektronik yang bisa disimpan dalam kemasan kecil, kalau itu berupa karpet, teko yang besar-besar, aneka makanan khas Arab yang berat, suasana di pemondokan menjadi aneh. Seperti toko. Saat harus pindah dari Madinah ke Mekah misalnya, jemaah harus kerepotan memanggul aneka macam bawaan.

Saat akan salat ke Masjidilharam, jemaah tidak khusyuk karena memikirkan barang berharga di pondokan. Kalau dibawa ke masjid, justru di sana nanti takut hilang. Pendek kata, berbelanja di awal waktu saat berhaji sangat merepotkan dan menjadikan hati tidak tenang.

Apalagi saat pulang ke tanah air, setiap jemaah hanya dibatasi membawa barang dengan berat maksimal 30 kg. Jika lebih dari jumlah itu, ia dikenakan denda yang cukup mahal. Aneka macam upaya akal-akalan kemudian dilakukan, misalnya dipecah-pecah kemasannya ke dalam banyak tentengan yang pada akhirnya merepotkan jemaah haji lain.

Menyiasati repotnya jemaah haji membawa beban barang bawaan, ada jemaah yang sebelum berhaji telah membeli aneka macam oleh-oleh khas berhaji, seperti membeli sajadah, topi haji, mukena, kerudung, dan sebagainya di tanah air. Toh aneka macam barang yang dijual di tanah suci, ternyata juga buatan Indonesia. Apalagi, membeli di tanah air harganya jauh lebih murah ketimbang membelinya di luar negeri. Lagipula ongkos transportasinya juga murah.

Hanya, cara seperti ini dianggap membohongi kerabat yang mendapatkan hadiah ini, karena dinilai tidak mengandung berkah karena bukan dibeli di tanah suci. Namun cara ini bisa dibantah, karena berkah bukan turun karena membeli sesuatu di Mekah atau Madinah, melainkan pemakaian yang optimal. Jika baju koko atau kopiah rajin dipakai untuk salat dan aneka macam kebaikan lainnya, maka meskipun dibeli di tanah air akan memberikan berkah. Sebaliknya, jika baju khas Arab dan sorban dibeli di tanah suci kemudian tidak pernah dipakai dan hanya disimpan di almari, lalu dari mana dan kapan berkah itu akan turun?

Kalau tidak ingin berbohong, jemaah haji tidak usah mengatakan bahwa barang-barang hadiah untuk sanak saudara itu berasal dari tanah suci. Cukup katakan, “Terima kasih doanya, saya telah kembali ke tanah air,” sembari menyerahkan hadiah berupa berang-barang khas haji yang dibeli di tanah air, tanpa menyebut di mana membelinya.

Kalau merasa waswas dan perasaan tidak enak jika tidak membelikan oleh-oleh bagi sanak saudara, bolehlah membeli oleh-oleh itu, asalkan memiliki uang yang cukup untuk itu. Jika uang yang dimiliki pas-pasan untuk makan dan minum serta biaya hidup di tanah suci, jangan paksakan untuk membeli oleh-oleh.

Kalau pada akhirnya membeli juga, belilah di saat musim haji usai. Sebab, jika berbelanja selesai berhaji, tingkat kerepotan tidak terlalu lama. Barang-barang bawaan tidak menumpuk di pemondokan. Lagi pula, jika seluruh ritual haji berakhir, para pedagang biasanya menjual obral dengan harga yang lebih miring. Bagi mereka, yang penting barangnya habis ketimbang tetap menjual mahal tapi barang masih menumpuk. Besar godaannya

Godaan berbelanja saat menunaikan ibadah haji sangat besar. Maklum, di tanah suci, kita memiliki waktu yang cukup banyak, sementara pekerjaan tidak punya, kecuali beribadah dan berbelanja itu. Jemaah yang memiliki banyak uang (bahkan yang memiliki uang pas-pasan) biasanya menghabiskan waktu senggangnya untuk berjalan-jalan di sekitar pertokoan. Meskipun tidak berminat betul terhadap barang-barang tersebut, kita kemudian ingat bahwa di tanah air banyak sanak keluarga serta sahabat dekat lainnya yang menginginkan oleh-oleh dari tanah suci.

Oleh karena itu, tidak sedikit jemaah haji yang “terjebak” dengan lebih banyak shopping daripada beribadah. Hari-harinya dihabiskan untuk memburu barang-barang yang diinginkan.

Berbelanja selama di tanah suci bukanlah suatu larangan. Namun demikian, hendaknya kita berbelanja secukupnya. Kita harus mengingat tujuan utama kita menunaikan haji adalah untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk berbelanja. Jika tetap berbelanja ini ada beberapa kiatnya:

(a) Dalam berbelanja, orang Arab dan orang Indonesia tidak mengenal bahasa. Hanya dengan menggunakan bahasa isyarat atau jari tangan, kita bisa berbelanja, membayar dan mendapatkan barang. Namun demikian, pada umumnya, para pedagang di Arab Saudi bisa berbahasa Indonesia, terutama berkaitan dengan harga-harga. Begitu melihat orang Indonesia, mereka akan menawarkan, “Lima real, Indunusia bagus. Lima real, Indunusia bagus.” dsb.

(b) Berbelanjalah untuk barang-barang yang sangat kita butuhkan saja. Sebab, meskipun banyak uang dan harganya sedikit murah dibandingkan di tanah air, namun kalau belanjaan kita melebihi 30 kg, berarti kita terkena denda. Dengan demikian, pada akhirnya, barang yang kita beli akan lebih mahal dibanding membelinya di tanah air. Dan yang pasti, dengan memborong barang-barang di Arab Saudi, hal itu akan merepotkan kita. Setidaknya, barang-barang tersebut senantiasa menjadi pikiran dan perlu penjagaan.

(c) Kebanyakan barang-barang yang dijual di tanah suci bukanlah berasal dari Arab Saudi sendiri. Barang-barang tersebut pada umumnya buatan Taiwan, Hongkong, Jepang, Cina, Thailand dan bahkan buatan Indonesia sendiri. Barang-barang tersebut kebanyakan bisa juga dibeli di tanah air, bahkan bisa lebih murah. Kalau bisa membeli di tanah air dengan lebih murah, mengapa mesti membeli di Arab Saudi?

(d) Setiap transaksi apa pun, hendaknya tanyakan dulu berapa harganya. Jangan mau mencoba barang apa pun, terutama makanan, sebelum kita tahu harganya. Kita perlu sedikit mengetahui bahasa Arab untuk menanyakan berapa harga barang ini. Misalnya, Kam real haadza? (Berapa real harga barang ini?) atau “Kam wahid?” (Berapa rupiah setiap satuan barang ini), dan sebagainya. Dengan mengetahui harga barang tersebut, kita bisa membayar dengan uang pas. Jika harus membayar dengan uang besar, kembaliannya bisa mbulet dan bertele-tele. Apalagi, para pedagang biasanya tidak menyiapkan uang kecil untuk kembalian.

(e) Kita tidak boleh terpedaya dengan kata “halal”. Kata “halal” adalah ucapan orang yang mengikhlaskan barangnya untuk diambil secara gratis. Misalnya, jika di pinggir jalan kita menemukan seseorang yang membuka bagasi mobilnya, dan di dalamnya terdapat satu karung roti. Dia akan berkata “halal… halal…” Itu artinya dia membagikan rotinya dengan gratis.

Tetapi bila kata “halal” ini diucapkan oleh pedagang, kita harus berhati-hati. Jangan sampai pemberiannya itu merupakan ikatan bagi kita untuk membeli. Lebih baik kita menolak pemberiannya, dan segera pergi bila kita memang tidak berniat membeli.

(f) Bila kita telanjur makan makanan tanpa mengetahui harganya, tapi tiba-tiba pedagang tersebut mencekik dengan harga yang tinggi, misalnya mengenakan harga RS 80 atau RS 100 untuk dua piring makanan, padahal harga yang sebenarnya hanya RS 20, mintalah kuitansi. Kuitansi ini bahasa Arabnya fakturah. Dengan meminta kuitansi, pedagang tersebut akan ketakutan, karena dikira kita akan mengadukannya kepada petugas pengawas perdagangan. Sebab, haram bagi pedagang di Arab Saudi untuk menaikkan harga barang dari harga yang ditetapkan, meskipun hanya setengah real.

Dengan meminta kuitansi, dia akan menetapkan harga tersebut sesuai dengan harga aslinya. Atau bisa jadi, kita akan diusir dari tempat tersebut, tanpa membayar makanan yang sudah telanjur kita makan.***

SUPLEMEN

Suplemen Politik Hukum Agama Pendidikan

IKLAN

Iklan Mini Baris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: